INDONESIATRAVEL.NEWS– Pasar Karetan yang berada di Dusun Segrumung, Desa Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, kedatangan tamu-tamu istimewa, Minggu (22/4).

Mereka adalah Deputi Pemasaran I Kementerian Pariwisata I Gde Pitana, Ketua Tim Percepatan Wisata Kuliner dan Belanja Vita Datau, juga peserta Training On Trainer (TOT) dari berbagai penjuru Indonesia.

Hadir untuk pertama kali di Pasar Karetan, I Gde Pitana dibuat takjub dengan kemeriahan destinasi digital besutan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jawa Tengah itu. Menurut Pitana, mengunjungi destinasi digital ini memberikan pengalaman (experience) yang luar biasa.

“Dalam berwisata, yang dicari wisatawan saat ini adalah experience-nya. Dimana saat mereka datang sampai pulang memberikan kesan tersendiri yang bisa diceritakan atau diposting di media sosial. Dan di Pasar Karetan memberikan semua itu,” ujar Pitana.

Dijelaskan Pitana, experience yang diberikan Pasar Karetan sangat beragam. Mulai dari naik Odong-odong (kereta kelinci) jika ingin ke lokasi Pasar, begitu juga dengan suasananya yang sangat rindang dan sejuk.

“Pas kita masuk pasar ini, kita langsung disambut aneka kuliner tradisional. Kulinernya unik-unik dan menggoda selera. Melihat suasananya, pasti kita buru-buru mengeluarkan kamera atau handphone untuk foto-foto. Karena sejak di pintu masuk banyak sekali spot foto yang menarik,” ungkap Pitana.

Memang benar, sajian kuliner yang ada di Pasar Karetan sangat menarik. Mulai pecel-pecelan tradisional, makanan khas daerah Jawa Tengah, hingga minuman tradisional dan kopi tersedia di sini.

Di Pasar Karetan, juga tersedia aneka wahana permainan yang menarik. Mulai dari panahan, sampai aneka permainan tradisional untuk anak-anak.

“Saya tadi sudah mencoba panahan. Menarik sekali. Nampak juga anak-anak yang asik bermain bersama teman-temannya atau Bapaknya. Di sini cocok sekali dikunjungi keluarga maupun komunitas,” tutur Pitana.

Satu hal yang menarik adalah, Rupiah tidak berlaku disini. Saat membeli makanan maupun kerajinan tangan, alat transaksi yang digunakan adalah Girik atau koin yang bisa dibeli di beberapa titik. Koin yang beredar nilainya Rp 2.500, Rp 5.000, Rp 10.000 dan Rp 50.000. Bila koin anda masih tersisa, bisa di-refund atau digunakan lagi saat kembali ke Pasar Karetan di lain waktu.

“Transaksi menggunakan koin ini cukup menarik dan memberikan kesan ke pengunjung. Selain itu, dengan menggunakan alat transaksi seperti ini, nilai transaksi bisa terpantau pada hari itu juga,” tambah Pitana.

Dalam kunjungannya, Pitana disuguhkan beragam atraksi. Mulai dari musik akustik, fashion show dari komunitas Orart-Oret, juga para body builder dari komunitas Lindu Aji.

Keseruan terjadi saat Pitana membuka bajunya dan berpose dengan para pemuda bertubuh kekar itu. Aksi Pitana ini disambut antusias para body builder. Mereka pun lantas mengangkat Pitana dan foto bersama.

“Pokoknya keren banget atraksinya. Banyak sekali hiburannya. Nyesal kalau belum pernah ke sini. Anak-anak GenPI memang sangat kreatif kalau buat destinasi digital,” pungkas Pitana.

Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, Pasar Digital atau pasar zaman now berbeda dengan pasar-pasar zaman dulu, yang hanya membutuhkan lapak, tempat menata barang dagangan, bertemulah pembeli dan penjual. Di Pasar Karetan ini pasar penuh aturan.

“Itulah digital lifestyle anak-anak muda. Selalu memikirkan impression, objek foto Instagrameble, interaktif, viral, trending topic, dan tema-tema khas online sosial media. Di mana ada objek anti mainstream, di situ mereka berkumpul,” kata Menpar Arief Yahya.

Digital lifestyle itu, kata Menpar Arief Yahya, harus interaktif, berbasis online, bercerita dengan video, gambar, sedikit text, viral alias dari HP ke HP. Bukan lagi dari mulut ke mulut, karena mulut mereka adalah gadget, signal, dan wifi. “Bagus, konsep Pasar Karetan ini! Silakan datang tiap Minggu pagi. Ajak juga keluarga atau teman-temannya,” ajak Menpar Arief Yahya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here