INDONESIATRAVEL.NEWS– Pengembangan amenitas di destinasi wisata terus dilakukan Kementerian Pariwisata. Termasuk membangun homestay. Program ini dilakukan di DI Yogyakarta serta Boyolali Jawa Tengah (Jateng). Desa Wisata Nglanggeran dan Samiran dipilih sebagai pilot project.

Hal ini ditegaskan Ketua Tim Percepatan Pembangunan Homestay Kemenpar, Anneke Prasyanti, beberapa waktu lalu di DI Yogyakarta.

“Kami telah menjadikan Desa Wisata Nglanggeran di Gunungkidul, DI Yogyakarta dan Desa Wisata Samiran, Boyolali Jateng sebagai pilot project Homestay Kemenpar di regional 2 (Jawa) pada tanggal 10 Desember 2018. Bertepatan pada acara sosialisasi Pengembangan Homestay Desa Wisata di Nglanggeran, Gunungkidul, DI Yogyakarta,” ujar Anneke.

Ada sejumlah alasan mengapa 2 desa tersebut dipilih sebagai pilot project. Desa Nglanggeran misalnya, desa ini dipandang jauh lebih siap untuk program-program percepatan. Hal ini ditunjukkan dengan prestasinya menjadi Desa Wisata Terbaik se-Asia Tenggara.

Begitu juga Desa wisata Samiran, Boyolali. Desa ini hadir dengan konsep Community Based Tourism Development(Pengembangan Pariwisata Berbasis Kemasyarakatan). Dengan konsep ini masyarakat terlibat secara langsung dalam mengelola pariwisata di desanya.

“Itulah kenapa kita memilih ke-2 desa tersebut. Karena untuk pelaksanaan program pengembangan dan pembangunan homestay harus berbasis arsitektur nusantara. Dan ke-2 desa tersebut sudah siap untuk melaksanakannya,” terang Anneke.

Bicara mengenai target, wanita yang memiliki latar belakang sebagai seorang arsitek ini mengaku, optimis. Paling tidak, Desember 2019 ke-2 desa tersebut telah menandatangai MOU untuk dilakukannya kredit. Hal ini sebagai upaya untuk realisasi program pengembangan homestay yang berbasis arsitektur nusantara pada tahun 2019.

Saat ini, Homestay telah menjadi fokus program Kemenpar. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan 20 juta kunjungan wisatawan manca negara dan 275 juta perjalanan wisatawan nusantara di tahun 2019.

Pengembangan homestay menjadi konsep strategis mengingat potensi terbesar pariwisata Indonesia adalah budaya dan alam. Kemenpar memiliki target 10 ribu unit kamar homestay desa wisata pada tahun 2019 sebagai bentuk dukungan amenitas pariwisata nasional.

“Amanat Presiden Republik Indonesia, pengembangan dan pembangunan homestay harus berbasis arsitektur nusantara. Hal ini dimaksudkan agar ciri khas dari setiap homestay memiliki kesan berbeda bagi para wisatawan,” ujarnya.

Namun upaya ini bukanlah tanpa halangan. Anneke mengakui faktor terbesar program ini adalah permodalan. Faktanya, material pembangunan homestay di tiap daerah lebih banyakf menggunakan bahan kayu dan bambu yang harganya cukup mahal. Untuk itu perlu adanya modal besar untuk membangun homestay.

Untuk itu Kemenpar pun mempunyai rencana strategis untuk melakukan percepatan. Salah satunya dengan menggandeng mitra perkreditan BUMN, yaitu PT. Sarana Multigriya Finance (SMF).

“Belum banyak bank konvensional yang mau memberikan pinjaman untuk pembangunan fisik bermaterial bambu dan kayu, dengan adanya kerjasama Kemenpar dengan SMF ini diharapkan ketersediaannya pinjaman modal dengan bunga yang lunak,” ujarnya.

Homestay memang digadang-gadang sebagai salah satu konsep untuk mewujudkan pariwisata berkelanjutan. Tujuan dari Kemenpar menggandeng mitra Perkreditan BUMN ini juga diupayakan agar masyarakat mandiri dan tidak tergantung kepada investor.

“Masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya alam lokal, dengan biaya perkreditan dan suku bunga pinjaman rendah. Selain itu jangka pinjam juga panjang mencapai 5-10 tahun. Masyaraka juga tidak dikenakan penalti jika dapat dilunasi lebih cepat. Jadi semua serba ringan dan tidak memberatkan,” pungkasnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan pembangunan homestay merupakan salah satu cara realistis untuk memenuhi kebutuhan amenitas di Indonesia. Karena skalanya kecil, membangun homestay akan lebih mudah dan lebih fleksibel dibandingkan membangun hotel.

Selain itu pembangunan homestay juga bisa tersebar di berbagai destinasi wisata di seluruh pelosok Tanah Air karena homestay tersebut dimiliki oleh masyarakat di sekitar destinasi wisata.

“Kita menargetkan 10 ribu kamar di berbagai destinasi wisata utama dalam rangka mewujudkan visi mendatangkan 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Homestay adalah solusinya. Ingat, hasil yang luar biasa hanya bisa diperoleh dengan cara yang tidak biasa. Maka dari itu saya harapkan seluruh stakeholder bisa saling bersinergi sehingga percepatan bisa dilakukan,” pungkas Menpar Arief Yahya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here