INDONESIATRAVEL.NEWS–Momentum malam puncak HUT ke-15 Kota Banjar, Jawa Barat, dijadikan ajang unjuk gigi pariwisata. Terutama pariwisata budaya juga kuliner. Perayaan yang dilakukan di Taman Kota Lapang Bakti, juga dimeriahkan penampilan Wayang Ajen.

Salah satu seni dan budaya andalan Banjar adalah Karinding. Buat yang belum tahu, Karinding adalah alat musik khas Sunda yang terbuat dari bambu dan dahan kawung.

Bukti kecintaan dan kebangaan warga Banjar dengan Karinding, adalah pemecahan rekor MURI tahun 2015 lalu. Saat itu, MURI mencatat 1.112 warga Banjar bermain Karinding secara bersamaan di Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari.

Keindahan alunan Karinding, juga diperlihatkan saat malam puncak HUT ke-15 Kota Banjar. Sekda Kota Banjar, Ade Setiana, mengaku bangga karena Kementerian Pariwisata turut memperhatikan pariwisata di kota ini.

“Kita berterima kasih karena Kementerian Pariwisata turut memperhatikan Kota Banjar. Kita mempunyai pariwisata yang bisa digali. Dan kehadiran Wayang Ajen menjadi momentum untuk memperkenalkan itu,” tuturnya saat memberikan sambutan, Sabtu (17/3) malam.

Karinding sebagai alat musik tradisional Sunda yang menjadi kebangaan Banjar, terus digaungkan. Apalagi, Karinding juga akan tampil dalam event akbar Indonesia Fashion Week 2018, 28 Maret – 1 April, di Jakarta.

Namun, tidak hanya Karinding yang diperlihatkan. Wisata kuliner berupa kopi Banjar juga diperkenalkan dalam momentum kali ini. Di Banjar, kopi yang terkenal adalah robusta.

Dalam malam puncak HUT Kota, para pedagang kopi kebangaan Banjar ini disediakan tempat khusus. Lokasinya sangat nyaman karena berada dekat pohon rindang. Sejak pagi, booth-booth kopi ini sudah diserbu pembeli.

Tidak hanya itu, Pemkot Banjar juga mengenalkan sejumlah destinasi wisata, utamanya kepada para siswa. Tepatnya saat perhelatan Anak Banjar Gemar Wayang. Dengan bermain kuis, para siswa terus digali untuk mengetahui destinasi di kota yang berbatasan dengan Cilacap, Jawa Tengah itu.

Menurut Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporpar) Kota Banjar, Nana Suryana, anak-anak diperkenalkan dengan destinasi wisata agar bisa melestarikannya kelak.

“Mereka mengenal sejumlah destinasi seperti Situ Leutik, dan lainnya. Tapi Lapang Bakti ini juga menjadi destinasi. Karena disini tempat berkumpulnya warga Banjar. Ada banyak permainan di sini,” jelasnya Anak Banjar Gemar Wayang, Sabtu (17/3).

Situ Leutik terletak antara dua dusun. Yaitu Dusun Pasirnagara dan Dusun Babakanpace, Desa Cibeureum, Kecamatan, Kota Banjar. Kawasan ini memang sedang dikembangkan menjadi salah satu wahana wisata komersial.

Di Situ Leutik, kita bisa memancing juga menikmati keindahan alam. Akan tetapi, warga menyarankan agar pengunjung tidak mengucapkan kata-kata kotor. Atau berbuat semaunya di kawasan ini. Pasalnya Situ Leutik dikenal sebagai salah satu kawasan wingit alias angker di Kota Banjar.

Selain Situ Leutik, Banjar Patroman juga memiliki Situ Mustika. Yang menarik, Situ Mustika terletak di kaki gunung Pemancar (Babakan). Tepatnya di Desa Karang Panimbal, kecamatan Purwaharja.

Situ ini termasuk tempat wisata yang sudah dikelola dengan baik di Banjar. Lokasinya yang berada di kaki gunung memberikan udara yang sejuk serta pemandangan hutan jati yang rimbun.

Sedangkan Kabid Pemasaran Pariwisata 1 Kementerian Pariwisata Wawan Gunawan, mengatakan pihaknya hanya membuka jalan bagi daerah, termasuk Banjar. Selanjutnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah untuk menggarap sektor pariwisata.

“Yang kita lakukan di Wayang Ajen adalah co-branding. Kita mengenalkan ini ke daerah, sekaligus menjadi kesempatan daerah untuk memperkenalkan dan mengangkat pariwisatanya. Kita membuka jalan, sekarang tanggung jawab pemerintah daerah adalah menggali potensinya,” tutur Wawan, yang juga Ki Dalang Wayan Ajen.

Menurutnya, pariwisata sebagai leading sector sangat menjanjikan untuk dikedepankan.

“Pariwisata itu adalah penyumbang devisi terbesar kedua di Indonesia. Yang artinya potensinya sangat besar. Jadi silahkan digali potensi pariwisatanya. Kementerian Pariwisata akan membuka jalan untuk itu,” katanya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, berharap Pemerintah Banjar bisa terus menggali potensi pariwisata yang dimilikinya. Untuk hal ini, dibutuhkan komitmen dari kepala daerah.

“Komitmen Gubernur, Bupati, dan Walikota itu menentukan 50% kesuksesan daerah dalam membangun sektor pariwisata.”

Menurutnya, keseriusan kepala daerah sebagai CEO akan terlihat dari bagaimana Pemda memprioritaskan sumber daya dan anggaran mereka di pariwisata.

“Contoh mudahnya adalah mengenai besaran anggaran untuk pariwisata, dan apakah pemilihan Kepala Dinas Pariwisata-nya sudah yang terbaik. Kalau mau berterus-terang, saya hanya akan bantu provinsi, kabupaten/kota yang gubernur atau bupati/walikota yang benar-benar committed dan konsisten membangun pariwisata,” pungkas Menpar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here