www.INDONESIATRAVEL.NEWS– Tradisi Nyepuh Ciomas masuk orbit unggulan Wisata Religi Ciamis. Event ini mampu menarik banyak wisatawan, Rabu (1/8), di Ciomas, Panjalu, Ciamis, Jawa Barat. Kehadiran event ini makin menguatkan potensi pariwisata Ciamis.

Tradisi Nyepuh Ciomas membuat destinasi wisata Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, lebih berwarna. Terlebih, event ini membalut kearifan lokal masyarakat dengan eksotisnya alam. Tradisi Nyepuh Ciomas memang digelar di Kawasan Hutan Lindung milik masyarakat adat desa. Luasnya mencapai 16 Hektar.

Deputi Bidang Pemasaran I Kementerian Pariwisata I Gde Pitana mengatakan, Tradisi Nyepuh Ciomas bisa menjadi wisata religi terbaik di Ciamis.

“Ciamis memiliki potensi pariwisata yang besar. Salah satunya melalui Wisata Religi berupa Tradisi Nyepuh Ciomas. Prosesinya unik dan menarik. Apalagi lokasinya berada di hutan yang rindang dan sejuk,” kata Pitana didampingi Kepala Bidang Pemasaran Area I Kemenpar Wawan Gunawan, Rabu (1/8).

Mengusung tema besar ‘Kembali pada Alam yang Lestari’, Tradisi Nyepuh Ciomas juga jadi branding Pesona Indonesia. Event ini bahkan mendapatkan support penuh dari Kementerian Pariwisata melalui kanal Wisata Religi.

Tradisi Nyepuh Ciomas kegiatan pengambilan air suci dari 7 mata air. Yaitu Gunung Tilu dan Cipanjalu. Ada juga Mata Air Cilimus, Geger Emas, Situ Lengkong, Kapunduhan, juga Pambuangan. Namun, kemasannya sangat keren. Terlebih, disempurnakan lewat doa dan ritual adat. Semua dibalut dalam upacara Nyepuh.

“Secara filosofis, Tradisi Nyepuh Ciomas ini sangat kuat. Sebab, ada nilai historis yang selalu dirawat dengan baik. Di situ juga ada aktivitas pelestarian lingkungan dengan merawat 7 mata air tersebut. Yang jelas, Tradisi Nyepuh Ciomas ini punya potensi besar untuk dikembangkan. Tinggal kemasannya saja yang harus terus ditingkatkan,” terang Pitana lagi.

Event Nyepuh sendiri biasanya dilakukan saat menyambut bulan Ramadan. “Tapi kali ini, tujuannya untuk promosi wisata religi melalui prototipe upacara Nyepuh. Namun, masyarakat sangat antusias. Mereka sangat serius mereka melakukan seperti aslinya, saat upacara tahunan Nyepuh digelar. Ini yang sangat menarik,” jelas Pitana.

Selain wisatawan, Tradisi Nyepuh Ciomas ini juga dihadiri oleh berbagai latar belakang. Ada rombongan besar dari Kemenpar, Camat Panjalu Erwin Hermawan, Kades Ciomas Yoyo Wahyono, juga Tetua Adat Ciomas Ema Haji Siti Mariyam. Hadir juga Budayawan Mang Ganda Suhanda (Wayang Landung) dan Zoen Tenzho Praktisi Media Sosial Jabar.

“Sinergi lintas sektor harus dilakukan agar Tradisi Nyepuh Ciomas ini lebih berkembang. Saat ini saja sudah ada ribuan wisatawan yang datang. Jumlah kunjungan wisatawan lebih besar terbuka bila event ini dikemas lebih menarik. Tradisi Nyepuh Ciomas ini bisa menjadi Wisata Religi unggulan di Ciamis,” tegasnya lagi.

Tradisi Nyepuh Ciomas menjadi menarik dengan kehadiran siswa SDN I Ciomas. Suasana pagi Tradisi Nyepuh Ciomas menjadi semakin meriah kala Kesenian Wayang Landung Mang Ganda. Gemyung dan Genjing lalu disajikan berikutnya. Usai ritual melalui pengalungan kain putih khas Tradisi Nyepuh Ciomas, rangkaian upacara ditabuh.

Disertai payung adat, rombongan Tradisi Nyepuh lalu mengantarkan Pitana menuju rumah Kuncen Makam Kiyai Penghulu Gusti, Siti Mariyam, dengan diiringi Shalawat Badar. Agenda lalu dilanjutkan menuju Mata Air Cigeugeur Emas. Berikutnya, dilanjutkan prosesi Ritual Siraman Air Suci. Setelah itu, baru berjalan menuju Puncak Ritual Makam Keramat Kyai Penghulu Gusti.

“Rangkaian Tradisi Nyepuh ini sangat panjang. Semua dilakukan dengan khidmat dan sarat nilai yang luar biasa. Tradisi ini harus terus dilestarikan. Bukan hanya itu, tradisi ini juga harus diperkenalkan pada publik lebih luas,” ujar Pitana lagi.

Ritual berlanjut ke Panglawungan Bojakrama. Yaitu tempat yang dirancang sebagai tempat makan bersama. Setelah semua pelaku upacara Nyepuh selesai melaksanakan rangkaian kegiatan, acara diakhiri makan bersama. Lokasinya keren. Karena berada di atas bukit hutan lindung. Menariknya, kegiatan menjaga lingkungan juga dilakukan. Yaitu dengan penanaman pohon mahoni. Oleh Tetua Adat, pohon tersebut diberi nama Mahoni Brahmananda.

Mendengar respon besar publik, apresiasi pun diberikan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. Menpar lalu menjelasakan, Tradisi Nyepuh bisa menjadi ikon wisata baru Ciamis.

“Rangkaian Tradisi Nyepuh ini unik dan menarik. Luar biasanya bisa menarik kunjungan wisatawan dalam jumah besar. Event ini memang luar biasa karena menjadi representasi dari masyarakat adat, toleransi, dan penghormatan pada tradisi juga kearifan lokal. Tidak kalah penting, lingkungan juga ikut terjaga,” tutup Menpar. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here