KARIMUN – Bagi pecinta barongsai, ada baiknya Anda luangkan waktu berlibur di penghujung April nanti. Akan ada Festival Barongsai terbesar, tepatnya di Tanjung Balai Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, tanggal 26-27 April mendatang.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizky Handayani mengatakan, Festival Barongsai sudah menjadi agenda rutin tahunan di Tanjung Balai karimun. Pada 2018, ada 12 tim yang meramaikan event ini. Sebanyak 30% slot diisi tim dari Malaysia dan Singapura. Sisa slot dibagi merata pada tim-tim asal Kepri. Tuan rumah sendiri diberi 2 slot.

“Festival Barongsai akan menampilkan atraksi barongsai dari tim-tim unggulan, baik dalam maupun luar negeri. Acara lomba digelar dengan berbagai kategori, dan pastinya bakal memukau para penonton,” ujarnya, Sabtu (13/4).

Festival Barongsai juga akan dimeriahkan seni tradisi lain yang mengangkat kearifan lokal. Dalam hal ini, Pusat Latihan Seni Pelang Budaya Karimun akan mempersembahkan Tari Persembahan serta hiburan kolaborasi etnis Tionghoa dan Melayu. Lagi-lagi, dua budaya dari etnis berbeda bersatu menunjukkan keharmonisan.

Asdep Bidang Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati menyatakan, bagi yang mempunyai waktu berlibur agak panjang, Anda bisa sekaligus mengunjungi destinasi-destinasi wisata yang ada di daerah ini. Sebagai pintu masuk turis internasional ke-4 di Kepulauan Riau, Karimun memiliki beberapa pilihan destinasi wisata pantai yang layak dikunjungi.

“Karimun Sendiri terbagi atas beberapa pulau, yaitu Karimun Besar, Pulau Kundur, Pulau Buru, Pulau Moro, dan Pulau Durai yang memiliki beragam pesona alam dan budayanya. Adapun destinasi unggulan yang dimaksud antara lain Pantai Pongkar, Pantai Pelawan, dan Pantai Ketam,” jelasnya.

Pantai Pongkar memiliki pasirnya putih, terletak di Kecamatan Tebing. Tempat ini memiliki banak spot untuk memancing, berlayar dan melakukan olahraga air. Objek wisata ini dapat dicapai dengan menggunakan transportasi lokal seperti taksi, bus, dan kendaraan roda dua lebih kurang 30 menit dari kota Tanjung Balai Karimun. Di sekitar objek terdapat panggung untuk suguhan kesenian daerah dan guest house bagi wisatawan yang ingin beristirahat atau menikmati suasana pantai lebih lama.

Selanjutnya Pantai Pelawan, memiliki bibir pantai yang landai dan pasirnya yang putih bersih. Wisatawan bisa berjalan-jalan menikmati ombak kecil yang bergulung perlahan, atau bahkan berjemur di bawah sinar matahari. Pada hari libur, pantai ini sangat ramai dikunjungi.

Sementara Pantai Ketam, awalnya merupakan lokasi ternak ketam. Namun kemudian lokasi ini disulap menjadi objek wisata yang bisa dikunjungi dan dinikmati pesonanya oleh masyarakat. Pantai ini memiliki hamparan pasir yang sangat luas dengan pepohonan rindang di pinggirnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menjelaskan, sejauh ini atraksi budaya masih menjadi magnet terbesar untuk menarik wisatawan. Data yang ada, 60 persen wisatawan datang ke Indonesia karena budaya. Sisanya 35 persen karena alam, dan 5 persen karena faktor buatan. Seperti meeting, incentive, conference, danexhibition (MICE), wisata olahraga, dan hiburan.

“Dari sisi atraksi, budaya kita jelas sangat kuat. Ini yang harus dikelola secar serius bersama-sama. Barongsai sendiri memang berasal dari budaya Tionghoa. Tapi kita tidak bisa menutup mata bahwa budaya ini ikut berkembang di antara kita dan bisa dipentaskan di Tanah Air,” jelasnya.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here