INDONESIATRAVEL.NEWS– Hujan rekor MURI benar-benar tercipta pada Festival Budaya Irau Malinau (FBIM) 2018. Kali ini, giliran suku Dayak Sa’ban yang mengukir MURI ke-10, Kamis (25/10).

Venue FBIM 2018, Anena Pelangi Intimung, Malinau, Kalimantan Utara, menjadi saksi sejarah. Sebab 10 rekor MURI telah tercipta dalam satu event. Rekor terakhir yang tercipta adalah kalung tradisional Ani Ka’bo dengan ukurannya terbesar.

Ani Ka’bo ini memiliki memiliki beberapa bagian penting. Rantainya memiliki panjang 2 meter. Bagian ini dihiasi manik-manik besar sebanyak 200 buah. Liontin atau ka’bonya berwarna merah. Liontin ini memiliki diameter tengah 20 cm dan panjang 30 cm. Liontin ini terbuat dari kayu yang dihiasi manik-manik merah kecil. Jumlah manik-manik ini sekitar 20.000 buah yang dililitkan dalam liontin.

“FBIM-9 ini menginspirasi. Mereka berlomba-lomba menciptakan prestasi dari potensi budaya etnisnya. Ani Ka’bo ini yang terbesar. Kami sudah mengeceknya secara komprehensif. Kalung dan liontinnya ini punya filosofi tinggi. Lambang status sosial, ada arus emosi dan spiritual. Semua mengarah kepada inner value,” ungkap Senior Manager Museum Rekor Dunia-Indonesia Yusuf Ngadri, Kamis (25/9).

Karya Suku Dayak Sa’ban ini memiliki filosofi tinggi. Kalung ini harus selalu tergantung di leher. Menariknya panjang kalung ini sampai ulu hati pemakainya. Pesan yang ingin disampaikannya adalah, ‘Si Hnau, Si Sawai, Si Lawai Aro Luen, Tam Luen’. Artinya, sehati, sepikir, satu tujuan. Harapannya, agar masyarakat Dayak Sa’ban mendapatkan kehidupanyang lebih baik.

Dengan meletakan kabo (liontin) di ulu hati, pesan ini akan diresapi. Filosofi ini juga dijalankan di dalam kehidupan sehari-hari. Memiliki pesan besar, Ani Ka’bo ini menjadi identitas etnik Dayak Sa’ban. Selain itu, warna merah pada liontin jadi simbol kebersamaan.

Ketua Persekutuan Masyarakat Dayak Sa’ban Malinau Johnson Pawang mengatakan, pengakuan MURI atas Ani Ka’bo menjadi berkah.

“Pengakuan rekor MURI atas Ani Ka’bo ini menjadi berkah bagi kami. Ada banyak filosofi yang ingin disampaikan. Etnis Dayak Sa’ban ini lebih mengutamakan kebersamaan, kekeluargaan, gotong royong, dan toleransi. Kami berharap dengan rekor ini, masyarakat Dayak Sa’ban semakin meresapi pesan dari Ani Ka’bo ini,” kata Johnson.

Filosofi besar juga dimiliki kalung yang melingkar. Dihiasi manik-manik multi motif dan kaya warna, kalung ini menyiratkan simbol kekerabatan. Atau, berkerabat dengan berbagai suku dan bangsa lainnya. Dalam pemecahan rekor MURI Ani Ka’bo ini, Dayak Sa’ban Malinau mendapat kunjungan dari saudaranya di Malaysia. Suku Dayak Sa’ban Miri, Serawak, Malaysia, datang dengan 8 orang.

“Di Malaysia juga ada Suku Dayak Sa’ban. Kami sudah lama bersaudara. Namun, ini kali pertama kami bisa berkunjung di event besar Dayak seperti ini. Secara budaya kami sama. Di sana juga ada Ani Ka’bo dan filosofinya sama. Kami takjub dengan pemecahan rekor MURI. Hal ini menjadi bentuk pengakuan bagi budaya kami,” jelas Presiden Persatuan Masyarakat Dayak Sa’ban Miri Usat Bilong.

Menunjukan kesamaan budaya, delegasi Dayak Sa’ban Miri pun menampilkan Tari Selamat Datang. Tari ini dibawakan oleh dua penari wanita dengan bulu burung di tangan dan diiringi musik sampe. Menjadi saudara, etnis Dayak Sa’ban Miri banyak mendiami beberapa wilayah di Serawak. Mereka ada di Long Banga, Long Balong, Long Pulung, dan Long Peluan.

“Budaya besar memang sudah ditampilkan etnis Dayak Sa’ban. Mereka berhasil meniupkan inspirasi melalui Ani Ka’bo. Budaya ini juga sudah tersebar ke mana-mana. Dengan banyaknya prestasi yanga ada di sini, kami berharap ini bisa memacu daerah lain. Beragam potensi dan kreativitas sudah seharusnya ditampilkan,” terang Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuti.

Untuk mendapatkan pengakuan ini, tiap daerah harus menampilkan keunikannya. Syarat lainnya harus terukur dan parameternya jelas. Untuk dapat status ini tinggal memberitahukan obyeknya ke MURI dilengkapi dengan papara singkat. Informasi lebih lanjut, klik muri.org.

“Prestasi dan inspirasi terus diberikan FBIM-9 ini. Kami semakin gembira dengan semakin kuatnya tali persaudaraan lintas negara. Hal ini bagus bagi pariwisata Malinau. Mereka tinggal menguatkan promosi saja. Sebab, atraksi, aksesibilitas, dan amenitasnya sangat bagus di Malinau,” tutup Menteri Pariwisata Arief Yahya yang sukses membawa Kemenpar No. 1 dan terpilih sebagai #TheBestMinistryTourism2018 se-Asia Pasifik di Bangkok. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here