INDONESIATRAVEL.NEWS– Sajian budaya terbaik Jakarta tersaji lengkap di Festival Tempo Doeloe 2018. Dibuka di Lapangan Museum Sejarah Jakarta, rangkaiannya mampu memberikan warna tersendiri. Acara ini menjadi santapan empuk bagi wisatawan yang memadati Kawasan Kota Tua, Sabtu (10/11) sore.

Prosesi Palang Pintu menjadi penyambutan atraktif para tamu undangan. Perpaduan silat dan seni pantun yang jenaka membuat prosesi penyambutan diserbu wisatawan. Begitu juga sajian tari topeng yang turut menyambut para tamu. Gemulai para yang tampil begitu dinamis dan enerjik ikut memanaskan suasana.

Tampak hadir pada kesempatan itu Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Mara Olowan Siregar, Ketua Calendar of Event (CoE) Kemenpar, Esthy Reko Astuty, Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Asriantoro serta Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Kebudayaan Taufik Rahzen.

“Budaya itu semakin dilestarikan semakin mensejahterakan. Selalu dinanti oleh wisatawan. Dan Festival Tempo Doeloe 2018 mampu menunjukkan kekuatan dari budaya besar dari Jakarta,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya, Sabtu (10/11).

Menjadi etalase kekayaan seni budaya Jakarta, ragam menarik memang ditampilkan festival tersebut. Festival ini menyajikan akulturasi 4 budaya besar yang ikut membentuk peradaban kota Jakarta. Dari mulai budaya Betawi, China, Arab, dan juga Melayu.

Musiknya diwakili oleh musik keroncong, Tanjidor, Gambang Kromong, Samrah hingga Gambus. Ada juga penampilan Barongsai, Tari Sufi dan juga Lenong. Selain itu ada juga pemutaran film nasional serta Pameran Urban Arkteologi. Sajian ekstra lengkap ini akan berlangsung hingga 16 November 2018.

“Festival Tempo Doeloe 2018 layak masuk dalam 100 Wonderful Event Kementerian Pariwisata tahun 2018. Penjabaran seni budaya masa lalu semakin memperkuat branding besar Kawasan Kota Tua. Ini tentunya menjadi atraksi yang menarik untuk wisatawan, apalagi wisatawan manca negara yang sangat menyukai seni budaya,” ucap Menpar.

Sementara itu Ketua Pelaksana CoE Kemenpar, Esthy Reko Astuty dalam sambutannya mengatakan, Jakarta sebagai pintu masuk kedua wisman harus mampu menghadirkn atraksi-atraksi untuk mendukung kepariwisataan. Sehingga dapat menjadi sebuah stimulus untuk mendongkrak kunjungan wisman lebih banyak lagi.

Karena sebagai ibu kota negara, Jakarta memiliki beragam keunggulan yang tidak dimiliki provinsi lainnya. Jakarta telah ditopang dengan aksesibilatas serta amenitas yang sangat baik. Potensinya banyak dengan beragam pilihan destinasi. Dari mulai culture, nature mau pun man made. Seperti halnya Kawasan Kota Tua yang bisa menjadi unggulan pariwisata. Terlebih saat ini Kawasan ini telah masuk kedalam kawasan destinasi prioritas.

“Komitmennya harus kuat. Aksesibilas serta amenitas yang baik tentunya akan makin kuat lagi jika didukung dengan atraksi yang baik pula. Ini yang harus yang harus ditingkatkan Provinsi DKI Jakarta,” ujar Esthy yang juga Staf Ahli Bidang Multikultural Kemenpar itu.

Sedangkan Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Kebudayaan Taufik Rahzen mengatakan, festival ini merupakan kunci untuk membangkitkan semua pihak. Kota Tua dengan segala keunggulannya menjadi sebuah pilihan untuk dapat menarik lebih banyak wisatawan.

“Diperlukan stimulus untuk mengangkat kesadaran melihat Batavia sebagai sebuah masa lampau yang kaya. Perannya yang strategis sebagai central kekuatan dimasa lampau merupakan nilai plus tersendiri. Nilai ini yang menarik untuk diangkat dan dijual ke wisatawan. Ini berhasil diterapkan diberbagai negara. Benchmarknya seperti Shanghai, Kyoto bahkan Jerman dan Inggris. Dan semua berangkat dari budayanya,” pungkas Taufik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here