INDONESIATRAVEL.NEWS, TANJUNGPINANG – Festival Penyengat 2019 berhasil melebihi target pengunjung. Dari 10.000 yang menjadi target, pengunjung yang hadir mencapai 13.600. Festival Penyengat 2019 digelar 14-18 Februari. Lokasinya berada di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Plt Kepala Dispar Tanjungpinang Syafaruddin mengatakan, pergerakan wisatawan sangat positif.

“Pergerakan wisatawan Festival Penyengat sangat positif. Event ini sukses besar. Sebab, arus wisatawan yang masuk melebihi target,” kata Syafaruddin, Selasa (19/2).

Pergerakan positif mulai terlihat saat opening. Digelar Kamis (14/2), opening ceremony dikunjungi sekitar 2.880 orang. Grafik ini semakin meningkat saat Iyeth Bustami tampil. Show Iyeth, Minggu (17/2), dikunjungi 4.000 orang. Untuk hari terakhir ada 1.000 orang.

“Profil wisatawan seperti ini bagus. Artinya, semua treatment diterapkan dalam Festival Penyengat bisa dikatakan berhasil. Meski demikian, kami tetap melakukan evaluasi. Festival tahun depan harus lebih sukses. Harus banyak inovasi yang ditawarkan agar arus wisman optimal,” terang Syafaruddin lagi.

Kalkulasi wisatawan didasarkan pergerakan pompong dengan poros Pulau Penyengat. Pompong ini alat transportasi masyarakat di sana. Jumlah pompong yang beroperasi sekitar 36 unit dengan jumlah trip 6-7 per harinya. Pergerakan wisatawan semakin menarik. Sebab, ada 5 negara yang bergabung menikmati festival ini. Sebut saja, Malaysia, Singapura, Thailand, Tiongkok, juga Australia.

Malaysia dan Singapura bahkan mengirimkan delegasi sebagai peserta. Berjumlah 14 penari, Singapura diwakili Sriwana. Total 5 tarian yang dibawakan. Dua diantaranya langka. Yakni Tari Selendang Mayang dan Tarian Istana. Sedangkan delegasi Malaysia terbagi 36 penampil Johor Bahru dan 3 orang senimannya dari Malaka.

“Potensi luar biasa memang dimiliki Festival Penyengat 2019 ini. Budaya Melayu yang ditampilkannya sangat kuat. Sisi histori masa silam dari Pulau Penyengat juga luar biasa. Sangat menginspirasi. Selain budaya Melayunya, Pulau Penyengat juga banyak memiliki situs-situs penting,” ungkap Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani.

Pulau Penyengat memiliki banyak peninggalan Kerajaan Riau. Ada Masjid Raya Sultan Riau, Kompleks Pemakaman Keluarga Kesultanan Johor-Riau, Meriam Bukit Kursi, Istana Kantor, juga Gedung Hakim Mahkamah Syariah dengan bentuk utuh. Pulau Penyengat juga memiliki Istana Kedaton. Situs ini punya bentuk utuh panggung penobatan sultan, gerbang barat, pondasi tiang, hingga sumur yang bisa dilihat.

“Tanjungpinang ini paket destinasi terbaik. Wisata sejarah dan wisata religinya sangat lengkap. Di sini juga banyak Vihara yang sangat menginspirasi. Vihara ini banyak menarik kunjungan wisatawan,” ujar Kiki, sapaan akrab Rizki Handayani.

Budaya Melayu dan Tionghoa memang berdampingan secara harmonis di Tanjungpinang. Beberapa area memilki profil luar biasa. Ada Vihara Ksitigarbha Bodhaisatva yang diresmikan 2 tahun silam. Vihara ini memiliki 500 patung Lohan dengan berbagai wajah plus sekitar 40 patung Dewa kepercayaan Budha. Dan, 1 patung ini harganya kisaran Rp25 Juta.

Menariknya lagi, Vihara Ksitigarbha Bodhaisatva ini dikunjungi sekitar 500 wisman per bulan. Mereka datang dari Tiongkok, Singapura, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, India, dan Jepang. Ada juga wisatawan Eropa, diantaranya Prancis, Jerman, juga Belanda. Asdep Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati menjelaskan, masyarakat Tanjungpinang sangat toleran.

“Nilai toleransi masyarakat Tanjungpinang sangat tinggi. Mereka ramah kepada para pendatang. Wajar bila Festival Penyengat dikunjungi banyak wisatawan. Berbagai budaya bisa hidup berdampingan secara damai. Kekayaan ini justru menjadi potensi besar,” papar Dessy.

Penguatan warna keberagaman diberikan Vihara Maitri Graha. Vihara ini memiliki patung Dewi Kwan Im setinggi 16,5 Meter. Patung Dewi Kwan Im tertinggi di ASEAN ini terbuat dari perak berlapis emas. Setiap hari, Vihara ini beroperasi pukul 07.00-18.00 WIB. Dengan keunikannya, Vihara ini dikunjungi wisman yang datang rata-rata dengan 5-6 bus setiap pekannya.

Kompleks Vihara Maitri Graha ini mengalami pengembangan. Di sini sedang dibangun Pagoda 9 lantai. Dengan total luasan area sekitar 14 hektar, kawasan dilengkapi perkebunan buah naga.

“Kawasan ini memiliki banyak destinasi wisata religi. Spot-spot ini bisa dinikmati setiap saat. Jadi, pastikan wilayah Tanjungpinang dan Pulau Penyengat sebagai destinasi wisata terbaik,” tegas Dessy lagi.

Pilihan destinasi wisata religi lain adalah Vihara Dharma Sasana. Familiar dengan Patung Budha Seribu Tangan, Vihara ini eksotis karena berada di tepi Pantai Senggarang. Lebih spesial, Vihara ini dikunjungi rata-rata 300 orang wisman per pekan. Mereka datang dari Malaysia, Singapura, dan Tiongkok. Vihara ini bisa langsung ditembus dari jalur laut karena memiliki dermaga sendiri.

“Festival Penyengat memang sudah selesai. Catatannya sangat positif karena pengunjungnya banyak. Ada profil wismannya juga. Dengan kekayaan yang dimilikinya, pariwisata Tanjungpinang akan terus tumbuh. Sebab, profil wismannya menjanjikan,” kata Kabid Pengembangan Pemasaran Area II Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar Trindiana M Tikupasang.

Mengandalkan jalur laut, pergerakan wisman di Tanjungpinang cukup positif. Sepanjang Januari-September 2018, Tanjungpinang dikunjungi 102.744 orang wisman. Angka ini naik 24,83% dari periode sama tahun 2017 dengan angka riil 82.304 orang. Wisman Singapura mendominasi dengan 44.693 orang. Selain itu, ada 39.739 orang wisatawan Tiongkok, dan 9.086 wisatawan Malaysia.

“Tingkat kunjungan wisatawan secara keseluruhan, menjadi angin segar bagi perekonomian. Kesejahteraan dari masyarakat akan naik seiring dengan pertumbuhan pariwisata. Efek lebih luas, arus masuk investasi ke wilayah Tanjungpinang secara keseluruhan. Pastikan tetap Tanjungpinang sebagai destinasi terbaik untuk berlibur,” tutup Menteri Pariwisata Arief Yahya.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here