SUMBAWA – Festival Pesona Moyo 2019 mampu mengangkat potensi lokal. Salah satunya produksi kopi asal Batu Dulang, Batu Lanteh, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tidak hanya produksi kopinya yang disajikan. Festival panen kopi, pengolahan, hingga tradisi meminumnya juga diperkenalkan.

Batu Dulang sendiri adalah desa yang berada di tebing Bukit Teba Panotang. Atau ada pada ketinggian 640 mdpl. Batu Dulang mirip desa-desa di Nepal. Di tempat ini, sekitar 200 Hektare wilayahnya ditanamani kopi.

“Batu Dulang sentranya kopi. Tanaman kopi di sini adalah warisan leluhur. Cita rasa dan keharumannya sudah terkenal hingga mancanegara. Banyaka wisman yang datang untuk menikmati kopi. Suasana desa juga khas di tebing-tebing perbukitan. Sampai hari ini, tradisi kopi masih dipertahankan melalui Tua Kawa,” ungkap Ketua UMKM Sumber Alam Batu Dulang Sahabudin.

Tua artinya hutan dan Kawa merujuk pada kopi. Hanya ditempuh 45 Menit dari Kota Sumbawa, Batu Dulang menawarkan Kopi Arabika dan Robusta sekaligus. Komposisinya, 80% Kopi Robusta dan 20% adalah varietas Arabika. Kopi-kopi otentik tersebut ditopang oleh 5 dusun, seperti Batu Dulang, Sampar Ano, Punik, Binawarga, dan Buin Basan. Kopi pun 80% jadi tulang punggung ekonomi.

“Seluruh aktivitas menyangkut kopi dilakukan secara tradisonal. Penanamannya alami, lalu pengolahan kopinya dilakukan manual. Selain tradisi, kami tentu harus menjaga kualitas dari cita rasanya agar tetap otentik,” ujar Ahonk sapaan lain dari Sahabudin.

Ada beberapa tahapan yang dilewati hingga menghasilkan cita rasa kopi nikmat. Pemanenannya diawali dengan ritual khusus Minyak Kesi. Minyak ini dioleskan pada bagian belakang daun telinga. Tujuannya, agar tidak ada serangga yang mengganggu. Untuk sekali panen, tiap 1 hektar lahan menghasilkan 800 Kg hingga 1 Ton biji kopi.

Tahap selanjutnya, biji kopi menjalani proses pengolahan. Ditempatkan pada lantai khusus, kopi dijemur di bawah sinar matahari selama sepekan. Kadar air ideal yang dituju sekitar 11%-12%. Berikutnya, kopi disangrai secara manual. Tempat sangrainya harus terbuat dari tanah, lalu apinya berasal dari batang kayu kopi. Cara ini dipercaya bisa menambah cita rasa dan keharuman khas dari kopi.

“Kopi dari kawasan Batu Dulang memang sangat terkenal. Cita rasa dan keharumannya sangat otentik. Kawasan ini memang menjadi tempat tumbuh kopi yang ideal. Dengan kekhasan tanahnya, cita rasanya jelas luar biasa. Kami rekomendasikan Kopi ini, apalagi menikmatinya di Batu Dulang dengan view yang eksotis,” terang Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang kebudayaan Taufik Rahzen.

Kopi Batu Dulang ditanam pada ketinggian minimal 1.000 mdpl. Ada beragam varian olahan kopi yang ditawarkan dengan karakter khas. Sebut saja, Natural, Semi Wash, Full Wash, Honey, dan Wine. Natural memiliki karakter keasaman sedang, fruity, mocca, hingga gurih. Untuk Honey muncul rasa manis tipis, lalu fruity dengan karakter Jeruk Sunkist. Untuk fruity kuat dimiliki Wine dengan Nangka dan Melon.

Olah kopi tradisional Batu Dulang pun semakin beragam. Mereka juga memiliki varian khusus Kopi Kawa Desa. Selain olahannya, cara meminumnya pun dilakukan secara tradisional. Lebih kental, Kawa Desa diseduh dengan komposisi Kopi setengah dari jumlah air. Penyajiannya pun dilengkapi Gula Aren. Takaran Gula Arennya sesuai dengan keinginan masing-masing penikmatnya.

“Olahan Kopi tradisional khas Batu Dulang harus dicoba. Dilakukan secara alami dan tradisional tentu memberi sensasi rasa luar biasa. Kehadiran Kopi Batu Dulang ini memperkuat khasanah. Apalagi, area nusantara terkenal sebagai surganya Kopi. Bagi para penikmat Kopi, silahkan datang ke Indonesia,” jelas Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani.

Batu Dulang juga memiliki Kopi Rempah. Kopi Robusta dan Arabika khas Batu Dulang, ditambah Jahe, Cengkeh, Kayu Manis, hingga Kelapa. Kopi pun dikembangkan juga menjadi Teh. Teh ini menggunakan Kulit Kopi sebagai bahan bakunya. Merea juga berencana membuat Parfum dengan aroma khas Kopi.

“Destinasi Batu Dulang ini luar biasa. Tradisi Kopinya masih bertahan bahkan berkembang. Ada banyak sekali varian Kopi yang bisa dinikmati oleh wisatawan. Dengan karakternya, wajar bila destinasi ini jadi rujukan utama wisatawan bila berkunjung ke Sumbawa,” tegas Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani.

Selain olahan Kopi, Batu Dulang juga menawarkan beragam produk lain. Ada Madu Alam yang diambil langsung dai hutan. Madu ini hasilkan lebah huta dari Pohon Binong. Dalam 1 pohon, biasanya terdapat banyak sarang lebah hutan tersebut. Batu Dulang juga menawarkan produk olahan Minyak Kemiri, Jahe Instan, Kunyit Mengkudu, hingga Lilin.

Beragam produk tersebut bisa ditemui langsung di Galeri UMKM Britama Batudulang. Lokasinya ada di Desa Batudulang, Batu Lanteh, Sumbawa. Harga yang ditawarkan ramah. Untuk produk Kopi dengan berat 150 Gram dibanderol Rp25 Ribu hingga Rp35 Ribu. Kopi seberat 250 Gram pun dihargai Rp35 Ribu hingga Rp50 Ribu. Varian Kopi Rempah dibanderol Rp30 Ribu. Harga produk Madu Rp65 Ribu sampai Rp120 Ribu. Pemesanan bisa melalui Facebook: batudulang ekowisata, atau 085237099667.

“Kalau ingin mencari Kopi dengan cita rasa otentik dan terbaik, datanglah ke Indonesia. Salah satu spot itu ada di Batu Dulang. Ada beragam exprience cita rasa yang ditawarkan di sana. Kesan positif dijamin kuat karena alam dan budaya di Batu Dulang sangat eksotis. Wisatawan juga bisa menikmati beragam aktivitas di sana,” tutup Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya yang juga Menpar Terbaik ASEAN.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here