INDONESIATRAVEL.NEWS– Kementerian Pariwisata (Kemenpar) makin serius mengembangkan konsep Nomadic Tourism. Pematangan rencana dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) Nomadic Tourism. Acara yang dihadiri Menteri Pariwisata Arief Yahya ini digelar Ballroom C Hotel Shangri-La Jakarta, Rabu (5/12).

Menpar Arief Yahya datang didampingi Deputi Bidang Industri dan Kelembagaan Rizky Handayani, Deputi Bidang Pengembangan Industri Dadang Rizky Ratman, dan Tenaga Ahli Nomadic Tourism Waizly Darwin. FGD sendiri diikuti 150 peserta. Mereka terdiri atas pengusaha di bidang Nomadic Tourism, Dinas Pariwisata Daerah, dan pihak lain yang terkait Nomadic Tourism.

Menpar Arief Yahya kembali menegaskan, Nomadic Tourism adalah Solusi Sementara Sebagai Solusi Selamanya. Benchmark-nya di bidang telekomunikasi berupa lahirnya nomor pre-paid.

“Melihat Nomadic Tourism ini seperti Telkomsel yang mengembangkan Pre-Paid. Dahulu Pre-Paid ini didesain sementara. Tapi, sekarang justru menjadi solusi selamanya. Pelanggan Telkom itu 98% Pre-Paid Service. Dan, hal ini yang akan terjadi dengan divulasi Nomadic Tourism di masa depan,” terang Menpar Arief Yahya.

Dia menambahkan, Nomadic Tourism dengan mobilitas tingginya, merupakan sebuah strategi paling efektif untuk pengembangan destinasi wisata baru. Sebab itu dia menargetkan Nomadic Tourism segera lahir dan diimplementasikan. Terutama di kawasan Badan Otorita Danau Toba dan Badan Otorita Borobudur.

“Potensi market Nomadic Tourism secara global juga sangat besar. Proyeksi nilainya sebesar kurang lebih 30 Miliar US Dollar,” ungkap Menpar Arief Yahya.

Nomadic Tourism pun dinilai sebagai divulasi terbaik mewujudkan target kunjungan wisman. Sebab, pariwisata Indonesia ditarget kunjungan 20 juta wisman di 2019. Nomadic Tourism juga solusi terbaik menjawab keterbatasan unsur amenitas dalam 3A (Atraksi, Aksesibilitas, dan Amenitas).

“Nomadic Tourism ini sangat simpel dan sederhana. Amenitas yang bisa dipindahkan. Bentuknya sangat beragam. Bisa berbentuk glamp camp, home pod, dan caravan,” tegas Menpar Arief Yahya.

Namun, Menpar Arief Yahya mengingatkan, konsep Nomadic Tourism ini sangat customer-centric. Positioning-nya jelas, yaitu para milenial sebagai market utamanya.

“Nomadic Tourism pada prinsipnya berlaku bagi semuanya. Tapi, idealnya memang para milenial. Kan para anak muda ini sangat mobile. Mereka menggilai digital dan sangat interaktif. Para milenial ini juga butuh pengakuan, esteem needs, melalui media sosial. Potensi inilah yang dibidik dan dikembangkan,” tuturnya.

Sementara, Tenaga Ahli Nomadic Tourism Waizly Darwin menjelaskan, dunia menyediakan market 39,7 juta backpacker. Mereka terbagi dalam 3 kelompok besar. Flashpacker atau digital nomad memiliki potensi 5 juta orang. Mereka menetap sementara di suatu destinasi sembari bekerja. Kelompok lainnya, glampacker atau familiar sebagai melenial nomad.

Kaum milenial nomad jumlahnya terbesar, mencapai 27 juta orang. Mereka mengembara di berbagai destinasi dunia yang instagramable. Kelompok pengembara dunia lainnya adalah Luxpacker atau Luxurious nomad. Kaum luckpacker ini berjumlah 7,7 juta orang. Mereka mengembara untuk melupakan hiruk pikuk aktivitas dunia.

“Para pengembara dunia ini suka kejutan. Harus ada sesuatu yang baru agar dicermati. Fokuskan semua dari kebutuhan customer. Sebab, atraksi di Indonesia itu luar biasa,” ujar Waizly.

Waizly menambahkan, nomadic tourism atau dikenal dengan wisata embara sangat cocok diterapkan di pedalaman yang minim aksesibilitas dan akomodasi.

“Jadi sekarang orang lebih suka mencari dan mendapatkan pengalaman yang unik, beda, anti-mainstream, dan instagramable,” pungkas Waizly.

Hasil dari FGD Nomadic Tourism kali ini diharapkan menghasilkan sesuatu. Khususnya platform digital yang mempertemukan supply dan demand bagi para pemilik lahan dan para pemilik modal di bidang Nomadic Tourism.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here