INDONESIATRAVEL.NEWS– Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sudah pasang kuda-kuda. Target 20 juta kunjungan wisatawan mencanegara (wisman) di tahun 2019 siap direalisasikan. Salah satunya dengan menerapkan Strategic Situation Analysis (SSA).

Hal ini dibahas di Pra Rakornas II Rapat Koordinasi Nasional IV di Hotel Milenium Jakarta, Selasa (16/10). Hadir dalam kegiatan ini, seluruh jajaran eselon I hingga eselon IV Kemenpar.

Pra Rakornas II ini merupakan tindak lanjut Pra Rakornas I yang dihadiri Menteri Pariwisata Arief Yahya di Rumah Maroko, 1 Oktober 2018 lalu.

Hasilnya, Kemenpar akan menerapkan Strategic Situation Analysis (SSA). Meliputi External (Opportunities & Threats), Internal (Strengths & Weaknesses), dan Strategic Formulation (SF).

Menpar Arief Yahya mengatakan, pada hakikatnya, Kemenpar adalah “kementerian pemasaran”. Karena tugasnya jelas memasarkan destinasi wisata (produk) untuk mendatangkan 20 juta wisman. Bukan sekedar menjalankan aktivitas rutin kepemerintahan.

“Jadi Kemenpar itu tak beda jauh dengan perusahaan, punya target tahunan dan punya “omset”. Jumlah devisa wisman yang dihasilkan tiap tahun itulah “omset” Kemenpar,” jelas Menpar Arief Yahya.

Plt Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Ni Wayan Giri Adnyani memaparkan, External (Opportunities & Threats) akan menyasar pasar besar Wisman. Meliputi China, India, Eropa, Singapura, Malaysia dan Australia.

“Brand awareness Wonderful Indonesia di dunia sudah cukup tinggi. Pertumbuhan kunjungan wisman ke Thailand, Malaysia dan Singapura menurun. Sementara pertumbuhan Vietnam sangat cepat di atas Indonesia. Perkembangan Digital Tourism yang sangat cepat,” papar Wayan Giri.

Sementara, Internal (Strengths & Weaknesses), dijelaskan Giri, salah satunya CEO Commitment. Ini merupakan salah satu dari 3 sektor unggulan Pemerintah RI. Pertumbuhan kunjungan wisman ke Indonesia 3 kali pertumbuhan Global maupun Regional World Top-20 Fastest Growing Destination.

“Indonesia memiliki banyak tujuan wisata favorite bagi wisman. Indonesia Banyak menerima pengakuan dan penghargaan dunia. Yang masih membutuhkan solusi adalah Ease of Entry. Yakni aksesibilitas dari pasar tertentu masih sangat kurang,” jelasnya.

Kemenpar pun menyiapkan Strategic Formulation (SF). Yang isinya ada super extra ordinary efforts, extra ordinary efforts, dan ordinary efforts. “Super extra ordinary efforts meliputi Border Tourism, Tourism Hub, dan Low Cost Terminal (LCT),” sebut Wayan Giri.

Dalam Border Tourism, akan diisi Ferry Joint Promo/ Hotdeals Kepri,
Event Cross Border (Musik, Sport, Religi), Pasar Digital (Border Land),
Pengembangan Mobile Positioning Data (MPD).

Sementara Tourism Hub, meliputi Kerjasama (Joint Promo) dengan Wholesalers/TA/TO di Singapura dan memanfaatkan strategi Cash Incentive dan HotDeals.

“Untuk Low Cost Terminal, ada joint promo dengan Angkasa Pura I atau Angkasa Pura II yang mengimplementasikan LCT dengan menurunkan biaya operasional dan PSC nya. Joint Promo (placement) dengan airlines yang membuka rute internasional di LCT tersebut,” ungkapnya.

Terkait extra ordinary efforts, Giri menjelaskan, ada Insentif Akses, Fully Charter Airlines/Ferry, Block Seats Regular Flight dan Joint Promotion (Existing & New Routes).

“Selain itu, ada juga Hotdeals Jakarta dan Hotdeals Kepri serta Competing Destination Model (CDM),” tambahnya.

Sementara, ordinary efforts berisi Branding, Advertising dan Selling. Branding dan advertising bisa melalui promosi media daring, elektronik, cetak dan ruang (sesuai kebutuhan pasar). Untuk peningkatan branding destinasi bisa melalui promosi di destinasi utama, publikasi 100 Calendar of Events, event daerah dan Famtrip.

“Untuk Selling, Kemenpar tetap menempuh jalur pameran, sales mission, Festival (Luar Negeri), kerjasama dengan maskapai penerbangan, Ferry dan Wholesaler,” tutupnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here