Baubau – Festival Keraton Kesultanan Buton 2019 segera digelar, 12-17 Oktober mendatang. Kegiatan yang digagas Pemkot Baubau ini dikemas berlandaskan nilai adat istiadat dan kearifan lokal. Khususnya masyarakat adat Kesultanan Buton.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Baubau, Ali Arham mengatakan, Festival Keraton Kesultanan Buton merupakan agenda tahunan yang sudah dilaksanakan sejak 2010. Kegiatan ini digelar untuk memeriahkan HUT Kota Baubau.

“Ada beberapa rangkaian acara yang bakal kita gelar. Antara lain Pesona Seni Kreatif, Pesona Batupoaro, Pesona Tuturangiana Andala, Pesona Poagona Lipu, Sarasehan Wisata Budaya, Pesona Bubusiana Lipu, Pesona Tari Kolosal, Pesona Tenun Karnaval, Pesona Prosesi Santiago, dan Haroa atau Pesona Peka Kande-Kandea,” ungkapnya, Rabu (9/10).

Menurut Ali Arham, Pesona Batupoaro adalah prosesi sakral tentang makna Batupoaro dengan masyarkat pesisir. Batupoaro tidak hanya dilihat sebagai situs dengan sejarahnya, tetapi merupakan salah satu tempat pengambilan sumber air. Baik dalam rangka kelengkapan adat pingitan atau posuo, maupun sumber air bagi para pedagang Buton yang akan berlayar keluar daerah.

“Pesona Batupoaro dilaksanakan pada tanggal 13 Oktober 2019, diawali dengan ritual keagamaan oleh perangkat masjid terdekat Wameo. Selanjutnya, peserta menuju kawasan Batupoaro,” jelasnya.

Untuk Pesona Tuturangiana Andala dan Poagana Lipu, merupakan ritual adat masyarakat Buton yang berada di salah satu Liwuto Makasu (pulau terdekat). Ini adalah tradisi yang telah berlangsung beratus tahun lalu, dengan nilai sakral menyatukan tradisi darat dan laut. Melalui kegiatan ini, masyarakat berdoa dan memohon keselamatan pada Yang Maha Kuasa. Pesona Tuturangiana Andala dan Poagana Lipu akan dilaksanakan di Liwuto dan Sukanaeo.

“Adapun Pesona Bubusiana Lipu, adalah prosesi masyarakat petani dengan acara ritual mempersiapkan musim tanam. Lewat acara ini, masyarakat petani berharap nantinya mendapat hasil panen yang berlimpah,” bebernya.

Selanjutnya, Pesona Kolosal dan Tenun Karnaval adalah tari kolosal 1.000 orang. Tarian ini bercerita tentang keamanan dan kedaulatan Kerajaan Buton dalam menghadapi rongrongan dari luar. Yaitu dengan mengedepankan Prinsip Polima sebagai sumber kekuatan menghadapi musuh Kerajaan Buton. Tenun Karnaval sendiri merupakan acara untuk menyemarakkan karya anak negeri, berupa hasil tenun masyarakat lokal seperti sarung.

Untuk Pesona Santiago, adalah tradisi penghormatan jasa para petinggi kerajaan dan Kesultanan Buton dengan berziarah ke makam para Raja Sultan dan tokoh penting. Sedangkan Pesona Peka Kande-kandea, adalah tradisi untuk menyambut pulangnya para laskar Kesultanan Buton dari medan perang. Biasanya, masyarakat menyiapkan aneka kuliner tradisional yang disajikan dalam talang. Acara tersebut juga menjadi wadah pertemuan muda mudi untuk saling mengenal.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani menyatakan, kesejarahan Kota Baubau adalah Pusat Peradaban Kesultanan Buton yang mencakup wilayah Kabupaten Buton, Wakatobi, Buton Utara, Buton Tengah, dan Buton Selatan.

“Kesuksesan Festival Keraton Kesultanan Buton yang digelar setiap tahun, menjadi sangat berarti bagi pelaku usaha dan jasa di Kota Baubau. Ini juga dapat meningkatkan pendapatan bagi para pedagang kecil, serta usaha kuliner. Dapat dibayangkan betapa besar perputaran transaksi keuangan pada pelaksanaan kegiatan ini,” ujarnya.

Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar, Ricky Fauziyani menambahkan, Festival Keraton Kesultanan Buton digelar dngan maksud meningkatkan kunjungan wisatawan di Kota Baubau. Umumnya di Kepulauan Buton.

“Festival Keraton Kesultanan Buton juga dapat dimaksimalkan untuk membangun citra daerah dan destinasi wisata Baubau. Termasuk meningkatkan peran serta seluruh stakeholders untuk turut membangun pariwisata daerah,” ucapnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menuturkan, Festival Keraton Kesultanan Buton merupakan atraksi wisata yang menarik karena mengangkat kearifan lokal. Ada banyak tradisi yang diangkat, sehingga wisatawan bisa mendapat dua hal sekaligus. Yaitu hiburan dan pengetahuan, termasuk sejarah Kesultanan Buton.

“Beragam potensi daerah bisa diangkat menjadi atraksi yang menarik, jika dikemas dengan serius. Semua pihak harus bergerak untuk memajukan pariwisata. Bergerak bersama untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik. Sebagai core economy bangsa, pariwisata memang harus mendapatkan dukungan semua pihak,” tandasnya.(***)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here