INDONESIATRAVEL.NEWS– Pelaksanaan Festival Budaya Irau Malinau (FBIM) 2018 sangat kental dengan budaya Dayak. Seperti yang ditampilkan Suku Dayak Sa’ban, Kamis (25/10). Salah satu suku di Malinau ini menampilkan tradisi budaya Pasa Hwal.

Pasa Hwal dipamerkan di Anena Pelangi Intimung, Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara). Pasa Hwal adalah proses suksesi kepemimpinan secara adat. Secara etimologi, Pasa Hwal berarti gulat tradisional masyarakat Dayak Sa’ban.

“Budaya Pasa Hwal ini sangat penting. Sebab, ini menjadi cara untuk mencari orang terkuat. Karakter pemberani untuk dijadikan pemimpin,” ungkap Ketum DPP Persekutuan Masyarakat Dayak Sa’ban Yefta Bartho.

Pasa Hwal dilakukan oleh pria dewasa Dayak Sa’ban. Apabila seorang pemimpin didapatkan, lainnya diangkat sebagai prajurit. Tugasnya menjaga dan mempertahankan desa dari serangan musuh. Mereka juga berperan sebagai pasukan Mengayau. Bartjo menambahkan, warga desa memerlukan seorang sosok yang kuat untuk memimpin.

“Kami mencari figur yang kuat dari budaya ini. Pasa Hwal banyak menampilkan kekuatan. Sebab, hanya yang terbaiklah yang berhak menjadi seorang pemimpin,” lanjut Bartho lagi.

Budaya Pasa Hwal berawal dari persaingan dua bersaudara. Persaingan jadi pemimpin diawali dari lombat batu tinggi dengan bambu runcing tajam di bagian bawahnya. Atraksi ini disebut juga sebagai Sa’ban Telmeh. Pemenangnya adalah yang bisa melompati batu tersebut. Rintangan ini dimenangkan oleh sang adik. Namun, sang kakak ingin membalas kekalahan melalui Pasa Hwal (gulat). Lagi-lagi sang adik jadi pemenangnya.

Menariknya, batu pertama Pasa Hwal masih tersimpan rapi di Desa Pa’upan, Krayan Selatan. Bartho menambahkan, etnis Dayak Sa’ban sangat menghormati tradisi dan sejarahnya. “Ada banyak tradisi yang dipertahankan. Sebab, kami ini menghormati sejarah. Semua masih tersimpan dan menjadi identitas kami,” lanjutnya.

Masyarakat Dayak Sa’ban sendiri terus hidup dengan tradisinya. Potongan rambutnya khas. Mereka hanya menyisakan rambut panjang di bagian atas dan belakang kepala. Rambut di atas telinga dibersihkan melintang lurus ke belakang. Untuk busana, pada momen tertentu mereka mengenakan Talun. Atau busana dari kulit kayu.

Untuk kaum wanita, memakai gelang ulau yang berwarna putih. Pada lengan dan betis wanita yang menikah ditato dengan motif tertentu. Ada pesan spiritual yang ingin disampaikan. Apabila pemiliknya meninggal, tato ini akan memberi petunjuk dalam kegelapan menuju cahaya terang.

“FBIM-9 banyak memberikan pengetahuan terbaik. Ada banyak budaya dari masyarakat Dayak di Malinau ini yang bisa dinikmati. Secara umum, semua hal menyangkut kehidupan mereka sudah diatur dalam hukum adat. Hal-hal seperti ini tentu jadi potensi wisata yang besar,” jelas Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kemenpar Esthy Reko Astuty.

Selain Pasa Hwal, beragam budaya khas juga ditampilkan etnis Dayak Sa’ban. Seperti Tari Marang Tuung. Tarian ini dibawakan oleh 4 anak-anak. Dua anak lelaki membawa mandau lengkap dengan perisainya. Mereka menampilkan simulasi perang. Aksinya mendapat respon dari masyarakat ketika mereka menggigit mandau sembari tetap menari. Ada juga Tari Marang Phakei.

Kekayaan budaya yang tersaji di FBIM 2018 diacungi jempol oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya.

“Suku Dayak Sa’ban dan lainnya di FBIM-9 telah memberikan experience terbaik. Pengunjung kini jadi tahu lebih banyak soal adat dan budaya mereka. Silahkan datang ke Malinau meski FBIM-9 ini sudah selesai. Sebab, ada banyak hal menarik yang bisa digali dan dinikmati dari masyarakat Dayak di sana. Ini adalah destinasi wisata terbaik,” tutup Menteri Pariwisata Arief Yahya yang sukses membawa Kemenpar No. 1 dan terpilih sebagai #TheBestMinistryTourism2018 se-Asia Pasifik di Bangkok. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here