INDONESIATRAVEL.NEWS– Sebagai masyarakat tradisional, Suku Dayak Tahol benar-benar menjaga kearifan lokalnya. Salah satunya, bubu. Alat penangkap ikan tradisional ini juga menjadi kebanggaan Suku Dayak Tahol yang berada di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Terlebih, bubu telah tercatat dalam rekor MURI.

Bubu memiliki bentuk, ukuran, dan rupa yang sangat beragam. Bagi Suku Dayak Tahol, bubu adalah simbol budaya.

Wakil Ketua Adat Lembaga Dayak Tahol Malinau Utara Polimon Pundas mengatakan, bubu adalah alat penangkap ikan ramah lingkungan.

“Bubu menjadi simbol masyarakat Dayak Tahol. Kami menggunakan bubu untuk menangkap ikan. Sebab, alat ini ramah lingungan,” ungkapnya Polimon, Sabtu (27/10).

Tidak berlebihan bila mereka menempatkan bubu sebagai properti penting. Suku Dayak Tahol terbiasa hidup di dalam lingkungan sungai. Di Malinau, mereka terpusat pada wilayah Sungai Semenduruk juga Sungai Ribang. Keduanya berada di wilayah hukum Pemkab Malinau.

“Kami memanfaatkan sungai dengan mengambil ikannya. Namun, pengambilan ikan dilakukan secara tradisional menggunakan bubu. Dengan memakai bubu, kami telah ikut melestarikan alam dan ikannya saat ini masih banyak. Kami telah ikut menjaga keseimbangan alam,” terangnya lagi.

Memanfaatkan panggung Festival Budaya Irau Malinau (FBIM) 2018, Kalimantan Utara, catatan rekor MURI untuk bubu terbesar pun diciptakan, Jumat (26/10). Mereka berhasil menciptakan bubu dengan ukuran super jumbo.

Etnis Dayak Tahol mencatatkan bubu dengan panjang 10 meter. Pintu bubunya berdiameter 2,25 meter. Diameter tengahnya 1,95 meter dan ujungnya 0,68 meter. Bubu ini terbuat dari kombinasi bambu dan rotan. Untuk membuat bubu superlatif ini dibutuhkan waktu 10 hari. Pengerjaannya pun dilakukan oleh 15 orang.

Menjadi penegas kerukunan, bubu ini dibuat secara gotong royong oleh perwakilan Pengurus Adat Tahol se-Kabupaten Malinau.

“Bubu ini menjadi warisan berharga dari leluhur. Model dan teknik pembuatannya juga khusus. Kami pun tergerak untuk mewariskan sesuatu yang berbeda. Karena ada event FBIM, kami putuskan untuk membuat bubu raksasa agar menjadi rekor MURI. Kami berharap ada kebanggaan yang bisa diwariskan bagi generasi muda etnis Dayak Tahol,” kata Polimon lagi.

Bubu raksasa milik etnis Dayak Tahol menjadi rekor MURI ke-11 yang tercipta di FBIM 2018. Bubu ini diberi nomor rekor MURI 8703. Koleksi 11 rekor MURI milik FBIM 2018 dalam satu event pun sensasional. Apalagi, rekor MURI ini diciptakan dari berbagai potensi budaya dan kearifan lokal seluruh etnis Dayak di Kabupaten Malinau.

“FBIM 2018 ini luar biasa dengan banyak rekor MURI. Bubu milik etnis Dayak Tahol ini juga luar biasa. Kami gembira karena mereka bangga dan terus melestarikan budayanya. Secara umum, etnis Dayak Tahol ini juga kaya akan budaya,” kata Senior Manager Museum Rekor Dunia-Indonesia Yusuf Ngadri.

Apresiasi harus diberikan kepada mereka. Menggunakan FBIM 2018 sebagai panggungnya, etnis Dayak Tahol juga menampilkan kekayaan tariannya. Mereka menampilkan Tari Lalatip.

Tarian ini bercerita soal ketangkasan pemuda/pemudi zaman now. Ada juga Tari Panawa yang diadopsi dari gerakan gemulai binatang kaki seribu. Filosofi yang ingin disampaikan adalah ‘pelan tapi pasti’.

Mereka juga menampilkan Tari Semajau. Tarian ini menjadi ritual dan bentuk penghormatan dalam acara penyambutan tamu spesial. Menegaskan karakter enerjik dan kekuatan, Trian Perang juga ikuti ditampilkan.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan, setiap daerah harus bangga dengan budayanya. Dengan kreativitas, budaya ini harus menghasilkan beragam value.

“Apresiasi bagi seluruh masyarakat Dayak di Malinau. Kreativitas mereka luar biasa. Apa yang mereka tampilkan sepanjang FBIM 2018 ini sangat menginspirasi. Mereka telah membuat value budaya semakin tinggi. Prestasi ini akan menaikan status mereka sebagai destinasi wisata terbaik,” tutup Menteri yang sukses membawa Kemenpar No. 1 dan terpilih sebagai #TheBestMinistryTourism2018 se-Asia Pasifik di Bangkok. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here