INDONESIATRAVEL.NEWS, JOGJA-Candi Borobudur memang luar biasa. Menjadi warisan luhur Nusantara. Kehadirannya selalu mampu memberikan inspirasi. Bukan saja bagi Indonesia, tetapi juga dunia.

Hal ini terlihat pada pembukaan Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2018. Pidato pembukaan dari Prof. Dr. Mudji Sutrisno S,J dan Prof. Dr. Toeti Herati, begitu dalam dan syarat makna kekuatan Nusantara.

Begitu juga dengan penampilan Nusa Tuak Sasando. Dawai-dawai indah bersenandung. Petikan harmonis dari Sasando semakin mengangkat kekuatan budaya Indonesia. Hal ini membuai tamu serta pencinta satra yang memadati Borobudur Ballroom, Hotel Grand Inna (Garuda) Malioboro Jogja, Kamis (22/11).

“BWCF itu luar biasa. Acara ini merupakan salah satu rujukan forum literasi di Indonesia. Tidak pernah monoton. Selalu dengan tema-tema yang spektakuler. Maka sangat wajar jika BWCF selalu dinanti para pecinta sastra,” ujar Menpar Arief Yahya.

Tahun ini, BWCF mengusung tema “Traveling & Diary, Membaca Ulang Catatan Harian Pelawat Asing ke Nusantara”. Di hari pembukaan, deretan nama besar tersaji lengkap. Ada Salim Lee, Dr. Tan Ta Sen, Prof. Joko Suryo, Mona Lohanda, dan Dr. S. Margana. Selain itu ada pula Halim HD, Andi Muhammad Akmar, Azhari, I Gusti Dibal Ranuh, serta Dr. Hudaja Kandahjaya.

“BWCF merupakan representasi inspirasi yang disandang Candi Borobudur. Ini merupakan modal lebih yang dimiliki Candi Borobudur. Belum lagi segudang potensi pariwisata lainnya disana. Uniknya seluruh kelebihan tersebut bersanding manis dengan kearifan lokal masyarakatnya,” kata Menteri asal Banyuwangi tersebut.

Sementara itu Prof. Dr. Mudji Sutrisno S,J mengatakan, Tahun ini BWCF memasuki tahun pelaksanaan ke-7. Penyelenggaraannya masih tergolong sederhana dan apa adanya. Masih panjang perjalanannya dalam mempertahankan kontinuitas.

“Tapi sedikit demi sedikit kami kami berusaha membenahi diri dengan menambah progam. Sehingga BWCF menjadi sebuah suguhan seni yang mumpuni,” ujar budayawan yang akrab di sapa Romo Mudji itu.

Romo Mudji menambahkan, berbagai terobosan baru coba disajikan BWCF 2018. Seperti halnya workshop dongeng anak. Untuk program ini, BWCF bekerjasama dengan Dr Murti Bunanta. Seorang penulis buku anak dan praktisi dongeng anak.

“Kami juga mengadakan sebuah festival film kecil-kecilan di Pondok Pesantren Pabelan, Magelang sebagai sebuah paralel event. 4 buah film bertema Islam dan pluralisme karya sutradara Nurman Hakim akan diputar di Pabelan dan kemudian Nukman Hakim beserta pengamat film Marselli Sumarno akan mengadakan diskusi dengan para santri,” ujar Romo Mudji.

Sementara itu, progam meditasi yang sudah di mulai dari tahun lalu tetap di pertahankan sebagai sebuah ikon baru BWCF.

“Tahun ini kami mengundang Laura Romano, seorang praktisi meditasi paguyuban kebatinan Sumarah, Romo Sudrijanto SJ dan Yudhi Widdiantoro untuk memimpin sesi yoga dan meditasi,” imbunya.

Sebagai sebuah festival juga menggabungkan perayaan dunia literasi dan dunia seni pertunjukan. Untuk itu BWCF juga ingin memberi perhatian sedikit besar ke seni pertunjukan.

Dengan tema: Migrasi, BWCF bahkan mengundang para koreografer dan teaterawan nasional. Seperti Ery Mefri, Bimo Wiwohatmo, Melati Suryodarmo dan Katsura Kan. Ada juga Miroto, Cok Sawitri, Toni Broer & Katia Engel, Jarot B Darsono, Yusril Katili dan Anwari.

Mereka diberikan kebebasan menafsirkan hal-hal yang berkenaan dengan “pengembaraan” dalam pementasan karya di panggung Aksobhya, Candi Borobudur.

“Catatan-catatan sejarah pelawat asing ini menjadi pemantik yang membentuk bangsa Indonesia. Ini menjadi sebuah pembahasan yang menarik untuk diangkat. Baik itu lewat sastra maupun pertunjukan,” pungkasnya.

Keistimewaan BWCF 2018membuat Kepala Bidang Pemasaran Area I (Jawa) Wawan Gunawan sumringah.

Menurutnya, sebagai perhelatan literasi, BWCF juga tidak melupakan para pengarang dan sastrawan itu sendiri. Dimana bukan sebatas gelaran satra dan pencerahannya, tetapi juga menjadi panggung bagi pengarang dan sastrawan memasarkan karyanya.

“Dengan demikian BWCF menempati fungsinya. Bukan semata-mata fungsi pengetahuan tetapi juga fungsi peningkatan perekonomian bagi pengarang dan sastrawan itu sendiri,” ujar Wawan Gunawan.

Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kemenpar Esthy Reko Astuty mengatakan, esensi dari nilai satra tertuang dengan baik pada perhelatan BWCF. Dan itu merupakan sebuah sebuah refleksi dari potensi Candi Borobudur. Apalagi konsinstensi BWCF sebagai sebuah pagelaran sastra sudah tidak diragukan lagi.

“Menjadi pagelaran yang ke-7, BWCF telah bertransformasi menjadi sebuah suguhan yang dapat menarik wisatawan untuk datang. Sehingga efeknya bukan saja BWCF itu sendiri, tetapi juga semakin memgangkat Candi Borobudur. Dan itulah mengapa BWCF masuk kedalam 100 Wonderful Events Indonesia 2018 Kementerian Pariwisata,” pungkas wanita berkerudung itu. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here