LIKUPANG – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) serius kembangkan destinasi super prioritas Likupang. Kali ini lewat Bimtek Pengembangan produk wisata budaya Likupang di Sutanraja Hotel, Kamis 22 Agustus 2019.

Tema itu dipilih memberi pelatihan bagi pelaku wisata dan stakeholder terkait dalam peningkatan daya saing wisata di Likupang. Meliputi pemahaman mengenai desa wisata, organisasi pengelola desa wisata serta langkah-langkah pelaksanaan pengelolaan desa wisata untuk meningkatkan kedatangan wisatawan mancanegara.

Mengapa Likupang? Presiden Joko Widodo telah menetapkan KEK Bitung – Likupang sebagai KEK pariwisata dan sebagai destinasi pariwisata unggulan super prioritas sejak 15 juli 2019.

“Seperti apa yang dipidatokan Pak Presiden Jokowi dalam Visi Indonesia, bahwa persaingan ke depan adalah ‘yang cepat mengalahkan yang lambat’. Speed itu penting, selain komitmen pimpinan daerahnya untuk melakukan percepatan,” kata Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.

Pengusul calon KEK Likupang ini sudah siap dengan lahan yang clear and clean seluas 197 Ha. Dan proses menyelesaikan sisanya 600-an hektare. Total akan menjadi 800-an hektare, dengan nilai investasi Rp 7,1 triliun.

Presiden Jokowi memberi arahan untuk memgembangkan dari segala segi. Baik tata ruang, infrastruktur pendukung Pariwisata, pembenahan pelabuhan, kesiapan SDM, atraksi wisata dan promosi pariwisata secara besar-besaran yang terintegrasi.

Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar Ni Wayan Giri Adyani menangkap arahan tersebut dengan jurus pengembangan SDM Pariwisata. Dalam bimtek ini dijelaskan tentang pengelolaan desa wisata, pengembangan homestay, sadar wisata dan strategi pengembangan desa wisata.

“Sebagai masyarakat dan pelaku wisata di Likupang, desa wisata harus menjadi unggulan dan pendukung utama KEK Likupang. Karena melalui desa wisata, multiplier effect pariwisata akan sangat langsung terasa ke masyarakat. Masyarakat tidak hanya sebagai penonton tetapi juga pelaku utama,” kata Giri.

Bimtek ini diikuti oleh 40 orang. Peserta antara lain kepala desa dan pelaku industri di desa wisata Marinsow, Bahoi, Pulisan, Kinunang. Selain itu melibatkan HPI, PHRI, ASITA, GenPI sulawesi utara, pokdarwis, akademisi, dan BUMdes.

“Kegiatan ini dipadatkan dari pagi hari mulai dari pemberian materi oleh para narasumber dan best practice. Juga ada penandatanganan kesepakatan bersama yang tertuang dalam suatu deklarasi sebagai komitmen kesadaran kolekif untuk mewujudkan pengembangan destinasi wisata di Likupang,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here