INDONESIATRAVEL.NEWS, JAKARTA – Keseriusan Kementerian Pariwisata menggarap crossborder area, terlihat di Atambua, Nusa Tenggara Timur. Bersama EtCetera Promosindo, Kementerian Pariwisata melakukan survei. Baik secara online maupun offline. Tujuannya, untuk mengetahui minat pasar dan wisatawan di border area.

Hasil survei digunakan untuk Konser Musik Perbatasan Atambua (KMPA) 2019. Event ini akan dua kali, 8-9 Maret dan 26-27 April. Lokasinya Lapangan Simpang Lima, Atambua. Berdasarkan survei KMPA 2019 edisi 8-9 Maret akan menampilkan grup band d’Masiv (Indonesia) dan Gerson Oliveira (Timor Leste).

Sedangkan untuk KMPA 2019 edisi 26-27 April, tampil Geisha (Indonesia) dan Maria Vitoria (Timor Leste). Maria ini adalah juara The Voice Portugal 2018.

Geisha, d’Masiv, Maria Vitoria, dan Gerson Oliveira berada di zona atas sebagai favorit dalam survei.

“Survei sebelumnya sudah dilakukan. Hal ini memang untuk mengetahui profil pasar pada crossborder Atambua secara detail. Nantinya hasil survey ini dipakai sebagai acuan treatment dari event. Tujuannya agar optimal menarik wisatawan, khususnya dari Timor Leste,” ungkap Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani, Senin (18/2).

Membidik pasar Timor Leste, survei diarahkan untuk mengisi 7 item ketertarikan masyarakat. Ada jenis lagu dan artis favorit, khususnya dari Indonesia juga Timor Leste. Kebiasaan market juga dipetakan dari waktu ideal menonton konser dan jenis pass masuk yang dimiliki. Untuk potensi branding dibidik dari media komunikasi, sosial media yang digunakan, hingga jenis akomodasi dan transportasinya.

Untuk mendapat informasi kompleks dan akurat, offline dan online survei digulirkan. Offline survei digelar 9-10 Februari 2019. Jumah respondennya 91 orang. Lokasi offline survey di zona Nusa Tenggara Timur ada pada PLBN Wini, Mota’ain, dan Motamasin. Untuk Timor Leste memakai Kota Dili. Metode online survei memakai google form, 5-6 Februari 2019. Jumlah respondennya sekitar 110 orang.

“Target utama, khususnya online survei, adalah masyarakat Timor Leste. Sebab, mereka memang pasar potensial bagi pariwisata Indonesia. Dari analisa hasil survei akhirnya bisa diketahui banyak hal. Secara umum, untuk komposisi artis yang ditampilkan pasti yang terbaik,” jelas Kiki, sapaan Rizki Handayani.

Hasil survei menyebut jika di crossborder Atambua, genre musik Pop, Hip Hop, dan Rock menjadi favorit. Musik Pop paling favorit dengan jumlah 63%. Pemilih Hip Hop dan Rock 15,2%. Lalu, hasil offline survey adalah Pop (53%), Rock (30%), dan Hip Hop (11%). Market pun lebih nyaman menikmati konser pada weekend.

“Terkait selera musik, setiap crossborder tentu berbeda-beda. Crossborder Atambua mungkin familiar dengan 3 genre itu, tapi warna lain tetap memiliki pasar. Seperti Dangdut, Reggae, dan Fushion tetap diminati. Ini menyangkut selera saja. Mengacu hasil survei, penyelenggaraan event juga sudah menyesuaikan,” terang Kiki lagi.

Mengacu hasil online, waktu konser terbaik ada di Sabtu-Minggu. Rentang waktunya 16.00-22.00 WITA. Untuk waktu Jumat-Sabtu memiliki persentase 28,3%. Hasil offline survei juga menghasilkan Sabtu-Minggu direntang waktu 16.00-22.00 WITA sebagai waktu terbaik. Untuk durasi panjang, para pemilih menyebut Jumat-Minggu dengan waktu terbaik malam hari.

Hasil survei menunjukan penggunaan media sosial yang aktif. Online survei menempatkan Facebook (67,4%) paling banyak dipakai, lalu Instagram (21,7%). Hasil serupa didapat dari hasil offline. Facebook (79%) dan Instagram (215).

“Kami harus melihat potensi pasar secara menyeluruh. Informasi detail dan akurat memang sudah kami dapatkan. Data-data ini juga bisa dipertanggungjawabkan. Sejak awal, data-data ini kami gunakan untuk menyusun konten ideal. Bahkan, metode promosi juga mengacu hasil survey ini,” papar Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani.

Dalam survei, masyarakat Timor Leste diketahui memakai passport untuk masuk ke Indonesia. Selain passport, ada juga warga Timor Leste yang mengandalkan Kartu PLB untuk masuk ke Atambua.

“Terkait mobilitas wisatawan, profilnya bagus. Mayoritas mereka memiliki passport. Tapi, ada juga yang memakai Kartu PLB. Untuk yang memakai Kartu PLB porsinya kecil, sekitar 7% saja. Artinya, terkait dengan aspek legal dan administrasi sudah tidak ada kendala,” kata Ricky lagi.

Para wisman yang berkunjung, mengandalkan hotel untuk tinggal. Disusul losmen, dan ada juga menginap di rumah kerabat. Untuk aksesibilitas, para pemilih mengandalkan jasa bus travel. Sisanya, memakai mobil pribadi dan motor pribadi.

“Data dan informasi akurat ini harus dimiliki. Setiap saat di upgrade karena market juga terus berubah dan tumbuh. Profil market di sana saat ini pasti sangat menjanjikan. Dengan menggunakan data akurat sebagai acuan, kami yakin pasar crossborder Atambua akan optimal,” tutup Menteri Pariwisata Arief Yahya.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here