INDONESIATRAVEL.NEWS–Prediksi Menteri Pariwisata Arief Yahya terkait potensi pertumbuhan arus wisman terbukti. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia meningkat di Februari 2018. Pertumbuhannya mencapai 9,12% dari bulan sebelumnya.

Jumlah kunjungan wisman sempat goyah efek erupsi Gunung Agung, Bali, akhir tahun 2017. Kini jumlah kunjungan wisman pun kembali berada di track idealnya. Mengacu data BPS Pusat, jumlah kunjungan wisman ke tanah air pada Februari 2018 naik 9,12% dari awal tahun.

Sepanjang Februari, jumlah wisman yang berkunjung mencapai 1,2 juta. Untuk Januari 2018, kunjungan wisman berada di angka 1,1 juta. Lebih menjanjikan lagi, total kunjungan wisman di Januari dan Februari 2018 naik 7,99% dari periode bulan sama pada tahun lalu.

“Pergerakan pertumbuhan wisman pada awal tahun terakumulasi positif. Tren dari setiap tahunnya ini naik cukup bagus. Ini menjadi sinyal positif yang artinya beragam upaya pemulihan jumlah kunjungan wisman ada hasilnya,” ungkap Kepala BPS Pusat Suharianto, Selasa (3/4).

“Kami berharap, jumlah kunjungan wisman ini akan terus tumbuh. Sebab, pengaruhnya positif bagi perekonomian,” terangnya lagi.

Beberapa negara tercatat sebagai big five donatur wisman terbanyak ke Indonesia. Kunjungan wisman terbesar diberikan oleh Tiongkok dengan jumlah 214.427 wisman. Malaysia di strip dua dengan kunjungan 205.855 wisatawan.

Berikutnya, ada 125.153 wisatawan Singapura, disusul Timor Leste dengan 123.777 orang. India menempati strip 5 dengan jumlah kunjungan 42.680 wisatawan.

Munculnya Tiongkok menjadi negara pemasok wisman tentu menarik. Sebab, hal ini tidak terlepas dari branding besar-besaran yang dilakukan Kementerian Pariwsata di Negeri Tirai Bambu. Bukan hanya kota-kota besar, promosi juga dilakukan sampai ke kota penyangga.

“Posisi wisatawan terbanyak memang berasal dari Tiongkok. Dengan potensi besar pasar Tiongkok dan treatment positif yang dipakai, jumlah itu akan terus bertambah. Lalu untuk India, ini menarik. India ini sudah mulai muncul. Hal ini tidak lepas dari kemudahan aksesibilitas,” tutur Suhariyanto lagi.

Khusus India, peningkatan jumlah wisman ini adalah dampak positif kebijakan direct flight dari Mumbay ke Denpasar. Penerbangan langsung tersebut dilakukan Garuda Indonesia.

Mengacu data BPS Pusat, wisman memang sangat mengandalkan direct flight. Sepanjang Februari 2018, wisman yang memakai jalur udara mencapai 62%.

Ada juga 22% wisman yang memilih jalur laut dengan kapal pesiar, lalu 16% memakai jalur darat. “Pertumbuhan positif wisman selama Februari ini menjadi indikasi adanya kenaikan signifikan pada beberapa daerah,” tegasnya.

Rapor positif pertumbuhan wisman dibukukan oleh Bali. Jumlah kunjungan wisman di Pulau Dewata tumbuh 26,35% sepanjang Februari 2018. Total ada 452.423 wisman atau naik 94.358 dari bulan Januari 2018. Dengan kata lain, dari Januari hingga Februari, Pulau Dewata sudah dikunjungi 805.538 wisman.

Kepala BPS Provinsi Bali Adi Nugroho menjelaskan, jumlah kunjungan wisman di awal tahun ini positif.

“Kalau dilihat dari Januari dan Februari 2018, maka pertumbuhan wisman ini positif. Beberapa negara memang naik signifikan, meski ada juga yang tidak. Semua wisman masuk ke Bali memakai direct flight dari negaranya. Hanya 8.618 wisman yang masuk melalui jalur laut,” kata Adi.

Pertumbuhan kunjungan wisatawan India ke Bali tumbuh signifikan sampai 59,08%. Pada Januari dan Februari 2018 total kunjungannya mencapai 55.530 wisman. Jumlah itu naik 20.624 wisman tahun 2017 dengan periode bulan sama.

Wisatawan Jepang juga naik 4,69% dengan jumlah 35.855 orang. Inggris pun tumbuh 7,47% dengan jumlah kunjungan 30.497 orang. Lalu, Malaysia juga naik 5,43% dengan angka riil 220.272 wisatawan.

Ada yang naik, ada juga yang menurun. Salah satunya Australia. Jumlah wisatawan Negeri Kanguru ke Bali turun signifikan 13,2%. Sampai Februari 2018, angka kunjungannya hanya 157.604 orang. Bandingkan dengan Januari-Februari 2017 yang mencapai 181.573. Lalu, wisatawan Russia juga turun 3,30% ke angka 23.739.

Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, data-data akan menjadi bahan evaluasi Kementerian Pariwisata.

“Apapun dinamika yang terjadi dengan jumlah kunjungan wisman akan dievaluasi semuanya. Kalau ada kenaikan, pasti akan terus dimaksimalkan. Kalaupun ada yang turun juga akan disikapi dan terus diupayakan agar tumbuh. Yang jelas, ini masih ada waktu bagi semua pelaku bisnis pariwisata bekerja,” pungkas Menteri Pariwisata Arief Yahya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here