PASURUAN: Bersamaan dengan peringatan Hari Perkebunan Nasional yang ke-62 tahun 2019, Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan pelepasan Ekspor kopi dan cengkeh. Pelepasan ini berlangsung di Gudang PT. Asal Jaya Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (10/12/2019)

PT. Asal Jaya merupakan salah satu eksportir komoditas perkebunan seperti kopi, kakao dan cengkeh di JawaTimur. Perusahaan ini sudah menjalankan bisnis ekspor ke 48 negara di kawasan Eropa, Asia, Amerika, Afrika dan Timur Tengah.

Pada acara simbolis pelepasan ekspor ini dikirimkan total volume ekspor komoditas kopi dan cengkeh sebanyak 449,6 ton (total 24 container) dengan total nilai ekspor 1.006.712 dolar AS atau sekitar Rp14,09 milyar. Kopi didapatkan dari Poktan binaan di Kabupaten Malang, sedangkan cengkeh dari poktan di daerah Ambon, Maluku. Untuk kopi seberat 382,8 ton (20 kontainer) dengan nilai ekspor 646.252 dolar AS (Rp.9,05 milyar) dan negara tujuan Mesir, Inggris, Italy, Jepang. Sedangkan untuk cengkeh sebesar 66,8 ton (4 container) dengan nilai ekspor 360.460 dolar AS (Rp.5,05 milyar) dan negara tujuan Pakistan dan India.

Dalam sambutannya Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Kasdi Subagyono mengatakan dirinya hadir mewakili Menteri pada launching ekspor ini, karena di benak bapak menteri ini luar biasa dan PT. Asal Jaya salah satu eksportir produk perkebunan yang cukup tinggi. Dimana setiap tahun ekspor 40 ribu ton yang nilainya sekitar 1,7 trilyun luar biasa.

“Kalau kita kaitkan dengan semangat kita yang sudah disampaikan oleh bapak menteri pertanian, kita punya program yang kita sebut dengan Gerakan Tiga Kali lipat ekspor produk pertanian, yang kita singkat dengan GERATIK. Tadi disampaikan oleh Direktur PT. Asal Jaya bapak Haryanto, perusahaan ini telah mengekspor 40 ribu ton maka kita akan tingkatkan 5 tahun ke depan menjadi 120 ribu ton, pertanyaan bagaimana memperoleh atau mencapai 120 ribu ton ? tentu pemerintah tidak akan tinggal diam, tadi baru saja kita fasilitasi karantina saja sudah semangat apalagi difasilitasi yang lain,” tutur Kasdi.

Menurut Kasdi di belakang eksportir ada peran pihak yang mensuplai produk kopinya yakni pekebun. Di sana ada petani, yang notabennya masih harus ditingkatkan usahanya untuk memperoleh tingkat kesejahteraannya. Ini tidak mudah, maka kerja sama antara pasar dengan produsen (petani) itu harus dijalin dengan lebih baik.

“Pemerintah dalam hal ini bukan lagi pendekatan proyek dan tidak lagi pendekatan program semata. Tapi kita kemas dalam perspektif gerakan yang namanya gerakan harus meningkat,” kata Kasdi.

Untuk itulah menurut Kasdi ditetapkan tekad 3 kali lipat harus meningkat. “Tentu APBN dan APBD tidak akan cukup untuk memfasilitasi para pekebun supaya produksinya cukup untuk diekspor. Karena menurut perhitungan APBN APBD paling hanya mengcover 25 – 30 persen. Lantas bagaimana dengan 70 persen? Nah pemerintah juga sudah menyediakan melalui instrumen perbankan pembiayaan. Kita akan support dengan pembiayaan KUR (Kredit Usaha Rakyat). KUR di sektor pertanian ini sudah menjadi komitmen dari pada Bapak Presiden dan menteri pertanian. Kita akan alokasikan sekitar 50 trilyun, dan 27,3 trilyun dialokasikan untuk sub sektor perkebunan paling tinggi, maka kita manfaatkan itu,” ujar Kasdi.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here