JAKARTA – Penguatan jaring ekonomi masyarakat kuat dilakukan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) di tengah Covid-19. Dengan database akurat, BPDP-KS pun mengembangkan Mitra Binaan Unggul Petani Sawit dan UMKM Berbasis Kelapa Sawit. Zonasi pengembangannya berada di beberapa wilayah Sulawesi dan Kalimantan.

“Kelapa Sawit punya potensi besar untuk terus dikembangkan. Untuk itu, diperlukan adanya program pendampingan secara berkala dan berkelanjutan. Tujuannya, agar produktivitas mereka meningkat dan memberikan manfaat secara ekonomi,” ungkap Pengawas Pelaksanaan Program Kerjasama BPDP-KS dan UKM Center FEB UI, Nining Indroyono Soesilo.

Program tersebut diawali dengan pengumpulan database mitra binaan UMKM dan Petani Sawit. Zona pengumpulannya berada di tiga wilayah, salah satunya Mamuju, Sulawesi Barat. Untuk dua zona lain berada di Ketapang, Kalimantan Barat, juga Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Proses pengumpulan database melibatkan dinas perkebunan, asosiasi, dinas koperasi, dan UMKM Berbasis Kelapa Sawit.

Dari database tersebut lalu dikembangkan menjadi Mitra Binaan Unggul Petani Sawit dan UMKM Berbasis Kelapa Sawit. Pada tahapan selanjutnya adalah, mereka diberikan pelatihan khusus (bootcamp kewirausahaan di akhir tahun). Menjadi sinergi antara BPDP-KS dan UKM Center FEB UI, pada setiap pekannya lalu dilakukan monitoring usaha.

“Melalui sinergi maksimal dari semua elemen, kami optimistis Petani Sawit juga UMKM Berbasis Sawit akan terangkat usahanya. Value secara ekonomi yang diterima tentu lebih besar,” terang Nining.

Mengacu hasil pengelompokan database, sebaran rentang usia petani sangat bervariasi. Mayoritas pria, rentang usia Petani dan UMKM Berbasis Kelapa Sawit berkisar 25 hingga 64 tahun. Lokasinya terpusat dan jauh dari kota. Profilnya semakin lengkap dengan rata-rata penghasilan sekitar Rp4 Juta hingga Rp50 Juta per bulan. Mereka memiliki background pendidikan dasar dan menengah pertama.

Dari informasi yang diperoleh, Petani Sawit juga UMKM Berbasis Sawit memiliki kendala dalam sistem manajerial. Mereka belum memiliki pengolahan dan pencatatan informasi keuangan secara baik. Hal ini sebagai impact dari keterbatasan pelatihan yang diperoleh petani. Nining menambahkan, kompetensi petani akan naik setelah mendapatkan pelatihan cukup.

“Setelah mendapatkan pelatihan, otomatis kemampuan petani akan naik. Bukan hanya produktivitas, tapi juga kemampuan manajemennya. Secara umum, profil mereka kompetitif untuk bersaing dengan lainnya,” lanjut Nining lagi.

Menurut Nining, ada beberapa tantangan dalam pengembangan usaha berbasis kelapa sawit. Sebut saja, umur ekonomis kelapa sawit dengan rentang 25-30 tahun. Masa tunggunya minimal 4 tahun, lalu ada kecenderungan harga TBS kelapa sawit mengalami penurunan karena eksternal dan internal. Eksternal sangat dipengaruhi pasar Tiongkok dan India yang ditutup karena Covid-19.

“Tantangan yang harus dihadapi oleh petani sangat besar. Dengan kehadiran kami, mereka menyambut baik dan terbuka terhadap kegiatan bootcamp. Apalagi, di situ tentunya akan ada sharing dan diskusi untuk meningkatkan produkivitas sekaligus mengeliminir masalah,” kata Nining lagi.

Selain tantangan, usaha kelapa sawit tetap memiliki potensi untuk dikembangkan di tengah pandemi Covid-19. Sebab, kelapa sawit selalu dibutuhkan oleh dunia. Secara alami proses pelaksanaan pekerjaan berjauhan sehingga memenuhi perinsip physical distancing. Kelapa sawit merupakan sumber Vitamin A dan E terbesar yang bisa berperan sebagai disinfektan bagi sebaran pandemi Covid-19.

“Aktivitas petani sawit ini memenuhi aspek physical distancing. Tetap ideal meski digulirkan di dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini. Jadi, aktivitas mereka merupakan salah lini yang bisa terus dikembangkan untuk menggerakan ekonomi wilayah,” pungkas Nining.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here